Terlihat Modis

Konten Menarik Saat Ini

Akademik Tinggi Tanpa Anak Kehilangan Masa Kecilnya
Uncategorized

Akademik Tinggi Tanpa Anak Kehilangan Masa Kecilnya

Pukul sembilan malam, anak berusia sepuluh tahun masih menunduk di meja belajarnya. Matanya berat. Tugasnya belum selesai. Besok masih ada ulangan. Pemandangan seperti ini terlalu sering dianggap wajar, bahkan dibanggakan, seolah menjadi bukti bahwa anak sedang bekerja keras. Padahal ada pertanyaan yang layak diajukan sebelum kita terlalu cepat merasa lega. Apa yang sedang ditukar anak untuk nilai-nilai itu?

Masa kecil bukan jeda sebelum kehidupan sesungguhnya dimulai. Masa kecil adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, dan sekali lewat tidak akan kembali. Di sanalah anak belajar hal-hal yang tidak diajarkan lewat lembar kerja, seperti cara berdamai setelah bertengkar dengan sahabat, cara menahan kecewa saat kalah, cara menemukan sesuatu yang ia sukai tanpa disuruh. Keterampilan itu tumbuh dari waktu luang, dari permainan, dari kebosanan yang akhirnya melahirkan ide. Ketika seluruh jam anak dipadatkan, ruang untuk hal-hal itu menyempit tanpa disadari siapa pun.

Anggapan bahwa akademik tinggi harus dibayar dengan masa kecil yang hilang sebenarnya keliru sejak asumsinya. Otak anak tidak bekerja lebih baik saat lelah dan cemas. Justru sebaliknya. Anak yang beristirahat cukup, yang punya waktu bermain, dan yang merasa aman di kelas akan lebih mudah menyerap pelajaran serta lebih berani bertanya. Beban belajar yang dipaksakan sering menghasilkan angka yang bagus dalam jangka pendek, lalu kejenuhan yang panjang setelahnya. Banyak orang tua baru menyadarinya ketika anak yang dulu bersemangat tiba-tiba berkata bahwa ia tidak ingin sekolah lagi.

Sekolah yang baik memahami perbedaan antara menuntut dan menekan. Menuntut berarti memberi tugas yang cukup menantang sehingga anak harus berpikir, lalu mendampinginya saat ia tersendat. Menekan berarti menumpuk pekerjaan sampai anak kehabisan waktu untuk menjadi anak. Dari luar keduanya terlihat mirip, karena sama-sama menghasilkan murid yang sibuk. Bedanya baru terlihat di wajah anak sepulang sekolah. Anak yang ditantang pulang dengan cerita. Anak yang ditekan pulang dengan diam.

Ada tanda-tanda yang bisa Anda amati langsung saat berkunjung ke sebuah sekolah. Lihat berapa lama waktu istirahat yang benar-benar dipakai anak untuk bergerak dan bermain, bukan untuk mengejar tugas. Perhatikan apakah pelajaran seni, musik, dan olahraga masih mendapat porsi yang layak, atau sudah dikorbankan demi tambahan jam mata pelajaran ujian. Tanyakan berapa banyak pekerjaan rumah yang biasa dibawa pulang murid seusia anak Anda pada hari biasa. Jawaban atas hal-hal sederhana ini menggambarkan filosofi sekolah jauh lebih akurat daripada kalimat apa pun di halaman depan situsnya.

Ada satu ukuran lain yang mudah dilakukan siapa saja, yaitu memperhatikan bunyi. Sekolah yang sehat terdengar ramai pada jam-jam tertentu. Ada tawa dari lapangan, ada suara anak berdebat soal aturan permainan, ada kursi yang bergeser karena kelas sedang bekerja berkelompok. Sekolah yang terlalu senyap sepanjang hari justru patut ditanyakan. Keheningan yang terus-menerus jarang berarti anak sedang khusyuk belajar. Lebih sering ia berarti anak sedang menahan diri, dan anak yang menahan diri sepanjang hari akan kelelahan sebelum pelajaran terakhir dimulai.

Perhatikan pula bagaimana sekolah menyikapi kesalahan. Di ruang kelas yang sehat, anak yang menjawab keliru tetap merasa aman, karena kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses berpikir. Di ruang kelas yang tegang, anak memilih diam daripada berisiko salah. Padahal keberanian mengambil risiko itulah yang justru dibutuhkan pada jenjang akademik yang lebih tinggi, saat anak diminta menyusun argumen sendiri dan mempertahankannya. Kurikulum seperti International Baccalaureate dan Cambridge menuntut kemampuan menalar semacam itu, dan kemampuan itu hanya tumbuh di lingkungan yang tidak menghukum kesalahan.

Di Jakarta, sebagian sekolah mulai menempatkan kesejahteraan murid setara dengan capaian akademiknya. Global Sevilla, misalnya, mengintegrasikan mindfulness ke dalam keseharian belajar, bukan sebagai kegiatan tambahan sesekali, dan menjalankan School Wellbeing Program bersama ikrar School Peace Zone untuk memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan bebas perundungan. Gagasan di baliknya sederhana namun jarang diterapkan secara konsisten, yaitu murid yang bahagia adalah murid yang berprestasi. Anak yang tenang lebih mampu berkonsentrasi, dan konsentrasi adalah bahan baku dari setiap capaian akademik yang bertahan lama.

Ada pula bagian dari masa kecil yang justru menjadi bekal akademik tanpa terlihat seperti pelajaran. Anak yang biasa bermain bersama teman sebayanya belajar bernegosiasi, membagi giliran, dan membaca perasaan orang lain. Anak yang punya waktu menekuni hobinya belajar tekun tanpa perlu diawasi. Keterampilan itu kemudian muncul kembali di ruang kelas, dalam bentuk kemampuan bekerja kelompok dan menyelesaikan proyek panjang. Jadi waktu bermain bukan lawan dari waktu belajar. Keduanya saling mengisi, meski hanya satu yang tercatat di jadwal.

Peran keluarga tetap besar dalam keseimbangan ini. Jagalah akhir pekan sebagai waktu yang benar-benar longgar. Biarkan anak punya satu kegiatan yang ia pilih sendiri, meski tidak menambah nilai apa pun di rapor. Tahan keinginan untuk mengisi setiap jam kosongnya dengan les tambahan, karena jam kosong itu bukan pemborosan, melainkan tempat anak mengenal dirinya sendiri. Dan saat ia bercerita tentang harinya, dengarkan dulu tanpa langsung menanyakan nilai. Anak yang merasa didengar akan lebih jujur menyampaikan saat ia mulai kewalahan. Perhatikan juga jam tidurnya, karena kurang tidur adalah penyebab paling umum dari sulitnya anak berkonsentrasi, sekaligus yang paling mudah diperbaiki di rumah tanpa bantuan siapa pun.

Perlu juga diakui bahwa keseimbangan bukan berarti menurunkan standar. Anak tetap perlu merasakan sulitnya menyelesaikan sesuatu yang tidak mudah, karena dari situ tumbuh rasa mampu yang tidak bisa dipinjam dari mana pun. Yang membedakan adalah tujuannya. Tantangan diberikan agar anak tumbuh, bukan agar sekolah terlihat bagus. Ketika niat itu jernih, beban terasa berbeda bagi anak, meski jumlah tugasnya barangkali sama.

Anak Anda hanya akan berusia delapan tahun satu kali. Ia akan mengingat sore-sore bermain di halaman, bukan lembar latihan yang ia kerjakan pada Selasa malam. Keduanya sebenarnya bisa berjalan bersama, asalkan sekolah yang Anda pilih memang meyakini hal itu. Cara paling jujur untuk memastikannya adalah datang dan melihat sendiri. Jika Anda sedang menimbang beberapa pilihan sekolah internasional jakarta, jadwalkan kunjungan ke kampus Pulo Mas di Jakarta Timur atau Puri Indah di Jakarta Barat pada hari sekolah biasa. Amati wajah anak-anak saat jam istirahat. Dari sana Anda akan tahu apakah tempat itu memberi ruang bagi anak untuk berprestasi sekaligus tetap menjadi anak.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *